Senin, 10 April 2017

Batas Sambas, Beranda Depan yang Mulai Berbenah

Para Pelintas Batas di Border Aruk (Dokumentasi Pribadi)
Para Pelintas Batas
Tumpukan pasir nampak di sepanjang jalan raya desa Sijang. Beberapa truk terparkir di tepi jalan, sementara para sopir menepi di warung kopi. Keesokan harinya pasir yang tadinya menumpuk di pinggir jalan, kini telah rata menutup permukaan jalan sepanjang beberapa ratus meter. Alat berat perata jalan mondar mandir menggilas apapun yang dilewati tanpa ampun. Perlahan tapi pasti, tanah dan kerikil yang tadinya berhambur menjadi rata dan padat. Sebentar lagi bagian jalan ini siap untuk diaspal.

Temawang Bulai, Desa Mandiri Energi di Kaki Bukit Saran

Pemukiman desa Temawang Bulai berlatar bukit Saran
Desa Temawang Bulai
Seperti biasa, kabut pagi hampir selalu menyelimuti desa. Kabut pagi ini cukup pekat, bukit Saran juga masih belum terlihat. Pukul 6 pagi, desa masih sepi tak tampak aktivitas berarti. Dalam suasana yang masih remang, tampak titik cahaya di depan rumah-rumah warga yang berjajar di sepanjang jalan desa. Sepanjang malam hingga pagi, lampu-lampu beranda masih menyala. 

Mengenal Keunikan Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat

Rumah Betang Sui Utik, Kapuas Hulu
Terpisah parit kecil, sekilas tidak ada perbedaan antara dusun Menukung 2 dengan dusun Mekarsari. Sama seperti masyarakat Dayak di daerah hulu sungai Melawi lain, mereka bekerja di sektor pertanian. Karet adalah sumber penghidupan utama mereka selain ladang padi. Seiring masuknya perusahaan sawit, sebagian mereka juga memiliki pekerjaan tambahan sebagai pekerja perkebunan. Kebanyakan warga kedua dusun itu masih memiliki hubungan kekerabatan. Dalam keseharian pun mereka membaur dan seringkali melakukan gotong royong. 

Rabu, 22 Februari 2017

Bermain Mobil, Mengisi Sore Ceria di Kampung Heret


anak-anak Heret dan mobilnya

Mobil, begitu seorang bocah menyebut benda yang sedang didorongnya itu. Dengan malu-malu dia menjawab pertanyaanku tentang nama mainan yang terbuat dari bambu panjang, diujungnya terdapat semacam roda dari kayu. Benda itu dimainkan dengan cara didorong menggunakan semacam setang dari kayu yang ditusukkan di badan bambu. Entah kenapa mainan itu dinamakan mobil. Si bocah pun hanya bengong, tak bisa menjawab kekepoanku itu. Mungkin karena malu, takut, atau bingung mau jawab apa. Yang pasti mainan itu jadi kegemaran anak-anak di kampung Heret, kampung kecil di pegunungan pulau Flores, NTT.

Jumat, 30 Desember 2016

Singgah di Ngabang, Menapak Jejak Sejarah Kerajaan Tertua Kalimantan Barat


komplek Keraton Ismahayana 
Seorang lelaki paruh baya menghampiri kami yang sedang bersantai di beranda. Hanya tersenyum, lalu dia membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. Sebuah rumah panggung kecil dengan warna kuning yang dominan dipermanis dengan warna hijau di bagian pintu, jendela, dan tiang. Bagian beranda dibatasi pagar kayu bermotif unik dibalut dengan warna kuning cerah. Enam pilar kayu berwarna hijau menjadi bagian dari pagar beranda sekaligus menjadi selingan dari warna kuning yang mendominasi. Di bagian tengah beranda terdapat lampu gantung klasik. Di samping beranda, terdapat selasar kecil yang masih terhubung dengan beranda namun tidak beratap. Bangunan beraksitektur khas Melayu itu cukup kecil, sama seperti beberapa rumah di sekitarnya.

Jumat, 11 Maret 2016

Mudik Ke Uncak Kapuas (1), Mulai Dari Pontianak Hingga Sekadau

jembatan Kapuas kota Pontianak
Membentang dari pegunungan Muller hingga selat Karimata, menjadikan Kapuas sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. Setidaknya untuk keperluan MCK, air sungai ini menjadi pilihan utama warga sekitar. Meskipun sudah ada jalan raya, sungai ini masih dijadikan sebagai jalur transportasi alternatif. Sungai sepanjang 1.143 km ini membelah Kalimantan Barat mulai dari selat Karimata hingga wilayah Kapuas Hulu.